Heri Dono

Heri Dono

Heri Dono lahir di Jakarta, 12 Juni 1960. Ia merupakan seniman kontemporer asal Yogyakarta yang menjadi seniman Indonesia pertama yang sukses menembus art scene global di awal tahun ’90-an. Mengawali kariernya di tahun ’80-an, Heri Dono dikenal dengan karya instalasi kontemporer yang banyak terinspirasi dari wayang. Ia berusaha memasukan elemen kompleks dalam pertunjukan wayang berupa visual, mantra, suara, storytelling, kritik sosial, humor, dan mitos berisi filosofi kehidupan. Komponen ini ia gabungkan dalam narasi karya-karyanya melalui penambahan elemen multimedia. Karya kreatifnya mengungkapkan ketertarikan Heri Dono dalam merevitalisasi seni yang berakar pada tradisi Indonesia. Pada banyak karya instalasi dan pertunjukannya, Heri Dono juga menggunakan ‘performativity’ dan potensi interaktif yang membuat karya-karyanya terlibat dalam dialog komplimenter dengan audiens. Dalam karya lukisannya ia banyak mengangkat deformasi liar dan fantasi gaya bebas yang berasal dari karakter dan kisah wayang. Kemudian ia menambahkan pengetahuan dan ketertarikannya pada kartun anak-anak, film animasi, dan komik. Kanvas Heri Dono selalu dipenuhi karakter menakjubkan dengan cerita yang fantastis sekaligus abstrak. Heri Dono sudah berpartisipasi pada lebih dari 300 pameran dan 35 internasional bienial, termasuk Asia Pacific Triennial (1993 dan 200), Gwangju, Biennale (1995 dan 2006), Sydney Biennale (1996), Shanghai Biennale (2000)The 50th Venice Biennale in Arsanale’s Zone of Urgency (2003), Sharjah Biennial (2005), Guangzhou Triennale (2011), The 56th Venice Biennale: Voyage-Trokomod (2015), Kochi-Muziris Biennale (2018), dan Bangkok Art Biennale (2018). Ia juga pernah meraih sejumlah penghargaan yakni: Dutch Prince Clause Award for Culture and Development (1998); UNESCO Prize (2000), dan Anugerah Adhikarya Rupa dari pemerintah Indonesia (2014).

UNIDENTIFIED UNFLYING OBJECTS

Judul Karya: UNIDENTIFIED UNFLYING OBJECTS

Media: Fiberglass, base beton, peralatan mekanis, lampu, kaca akrilik, selang plastik

Ukuran: Dimensi bervariasi

Tahun: 2021


Unidentified Unflying Objects tercipta berdasarkan perubahan situasi politik yang terjadi di indonesia pada 1998, di mana pada saat itu terjadi sebuah gerakan reformasi untuk menumbangkan pemerintahan yang otoriter dan kental dengan unsur militer menjadi sebuah pemerintahan sipil yang lebih demokratis. Para astronot yang mendarat di bulan pada 16 1969 sebenarnya tidak terbang, melainkan diterbangkan oleh Apollo 11. Heri melihat kostum yang dipakai oleh para astronot tersebut sama dengan pakaian yang dikenakan oleh bayi. Reformasi yang baru ini menjadi sebuah tanda bahwa kita masih belajar tentang budaya, peradaban, dan pengetahuan sebagai sesuatu yang terus menjadi misteri dalam kehidupan.