M Yasir

M Yasir

M. Yasir lahir di Rimo, 18 September 1992, saat ini tinggal di Aceh Singkil. Berawal dari hobi menggambar sewaktu di bangku SMA, lalu guru seni budaya menyarankan pada saat kuliah mengambil jurusan seni rupa. Saran guru tersebut ia patuhi hingga kemudian berhasi lulus dari Universitas Negeri Padang dengan program studi pendidikan Seni Rupa. Saat ini berkesempatan melanjutkan studi S2 di Pascasarjana ISI Yogyakarta. Meski kondisi saat ini sedang pandemi, perkuliahan masih tetap dilanjutkan dengan metode daring. Ia telah aktif berkarya dan berpameran sejak kuliah di S1. Karya-karya yang dibuat kebanyakan lukisan dengan aliran surrealisme. Adapun tema-tema yang sering dimuat dalam lukisan adalah tentang realitas kekinian dalam kehidupan sehari-hari. M. Yasir telah beberapa kali mengikuti pameran nasional yang diadakan oleh pemerintah di antaranya: "Pameran Besar Seni Rupa" di Manado (2016), "Pameran Sumatera Biennale" di Padang (2016); Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 "REST AREA" di Galeri Nasional Indonesia (2017); dan "Pameran Keliling Koleksi Galeri Nasional Indonesia dan Perupa Aceh" (2018). M. Yasir juga aktif mengikuti pameran yang dilaksanakan oleh komunitas-komunitas seni yang di Bengkulu, Padang, Aceh, dan Yogyakarta. Pada tahun 2017 meraih Juara 1 dalam Pameran Pemuda Se-Aceh dan pada tahun yang sama pula ia mendapatkan penghargaan dari Bupati Aceh Singkil Sebagai Pemuda Berprestasi.

Berkah

Judul Karya: Berkah

Media: Cat akrilik dan kopi pada kanvas

Ukuran: 100 x 140 cm

Tahun: 2021


Pagi itu terasa sejuk dan sentosa Para insan nafas mulai terjaga Bersiap dan bergegas melanjutkan kerja Mencari nafkah untuk diri dan keluarga Ombak tampak tenang Angin meliuk lembut Hati para nelayan sangat senang Memandang laut biru muda membalut Ladang terlihat rimbun Hijau dan kuning memanjakan mata Jiwa para petani penuh lantun Mengucap syukur kepada yang Maha Kuasa Saat perahu mulai berlayar Tak lupa membawa kitab belajar Bukan maksud mencari bekal dunia semata Namun ilmu akhirat terus ditempuh jua Petani dan nelayan tahu pasti Hidup di dunia tiada abadi Ilmu dan amal bekal sejati Akhiratlah kehidupan yang dicari. Begitulah kehidupan sehari-hari masyarakat Aceh. Alam melimpah ruah pertanda kehidupan berkah. Laut yang luas, sungai yang banyak serta sawah ladang pun terbentang sejauh mata memandang. Hari-hari masyarakat melaut dan menyusuri sungai untuk menangkap ikan. Terasa sangat berkah tinggal di desa. Tinggal di tanoh meutuah Syiekh Abdurrauf As-Singkili, yang bernama Aceh Singkil. Syiekh Abdurrauf As-Singkili adalah ulama kharismatik nusantara. Beliau adalah penerjemah Alquran pertama ke dalam Bahasa Melayu. Semasa hidup dahulu, beliau bukan hanya mengajarkan ilmu agama menyusuri laut dan sungai, tetapi juga mengajarkan cara bertani, melaut, dan ilmu terapan lainnya yang hingga kini masih dilestarikan masyarakat. Syukur tiada terkira, bahwa hasil alam mulai dari kopi, ikan, padi, pala, dan rempah-rempah lainnya masih menjadi hal yang membawa berkah hingga saat ini. Lukisan tersebut terbuat dari kanvas, akrilik dan kopi. Kopi digunakan sebagai identitas Aceh. Ketika petani turun ke kebun Tetap ingat membawa buku dituntun Saat lelah mulai menjelma Sembari istirahat berbagi ilmu untuk sesama