Moel Yana (The Mogus)

Moel Yana (The Mogus)

Mulyana lahir di Bandung, Mei 1984. Belajar Pendidikan Seni di UPI, Bandung, Mulyana mulai berkarya dengan media rajutan sejak 2009. Sejak hijrah ke Yogyakarta, karya Mulyana mengalami perkembangan pesat dengan ukuran instalasi karya raksasa dan bekerja dengan berbagai komunitas rajut dengan sistem pengerjaan modular. Karakter Mogus yang adalah alter ego Sang Seniman, adalah kependekan dari Monster Gurita Sigarantang, karakter gurita dengan berbagai ekspresi dan warna. Habitat tinggal si Mogus adalah kepulauan koral yang juga terbuat dengan media rajutan. Mulyana telah berpameran di dalam dan luar negeri dan karyanya juga diminta untuk menghiasi paras gerai toko kenamaan seperti Hermès. Rangkaian pameran bersamanya dimulai di Bandung dan mendunia, salah satu pameran yang sangat mengesankan khalayak adalah SEA REMEMBERS yang dijadikan karya penanda ARTJOG11 tahun 2018. Di luar negeri, karya Mulyana dipamerkan di Central Embassy, Bangkok (2019); The Goods Shed (FORM), Perth, Australia (2019); Orange County Museum of Art, California, USA (2019); Sapar Contemporary (2020), instalasi tunggal raksasa di Esplanade, Singapore (2020). Mulyana juga pernah menyelenggarakan pameran tunggal yakni di ARTPORTERS, Singapura (2020); ACC Gwangju, Korea (2020); dan Choengju Craft Biennale, Korea (2021).

PATRAKOMALA

Judul Karya: PATRAKOMALA

Media: Rajutan benang akrilik

Ukuran: 60x60x200cm

Tahun: 2021


Pakaian yang dimasukan ke golongan sandang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas suatu budaya. Di sini seniman ingin menampilkan kekuatan karakternya dalam medium rajut yang digelutinya hampir lebih dari satu dekade. Walaupun media rajutan bukan merupakan budaya asli Indonesia, akan tetapi keberadaannya terus berkembang dilihat dari industri rajutan dan bahan yang berlimpah. Bahkan komunitasnya pun terbentuk dari berbagai macam kalangan. Kostum rajut yang saya buat merupakan bagian usaha mengekpresikan keresahan saya tentang identitas dan status keberadaan sebagai manusia yang sekarang hidup di zaman serba terbuka dan tidak takut menerima hal baru. Saya berpikir ke depannya banyak orang yang akan memakai kostum aneh di kehidupan sosial kesehariannya nanti. Patrakomala ada nama bunga khas Bandung tempat kelahiran saya. Saya mengambil warna merah, kuning, oranye, dan hijau sebagai dasar warna. Karya berbentuk 1 kostum yang akan dipakaikan pada sebuah manekin.