Muhammad Suyudi

Muhammad Suyudi

Muhammad Suyudi akrab disapa Yudi lahir di Lajokka, 24 September 1989. Mulai tertarik pada dunia seni rupa sejak duduk di bangku sekolah, yang berawal dari kegemaran menggambar tato pada tubuh teman-temannya. Dia melanjutkan studi di Pendidikan Seni Rupa pada Universitas Negeri Makassar dan memperoleh gelar Sarjana dan Magister. Saat kuliah banyak berinteraksi dengan seniman Makassar. Pada tahun 2011 resmi bergabung sebagai anggota Makassar Art Gallery dan banyak belajar pada pelukis realis Budi Haryawan dan Mike Turusy. Pada tahun 2012 mengikuti pameran Galeri Nasional Indonesia bertajuk “Narasi Zaman”. Sepanjang tahun 2014 terlibat aktif pada kegiatan pameran seni rupa rumahan (station) yang dianggap sebagai momentum kebangkitan seni rupa Makassar tahun 2014. Ia juga mengikuti Group dan Solo Exhibition “BINNE” pada 2015. Yudi beberapa kali mengikuti kegiatan pameran di GNI yaitu Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya 2016 “ALUR” dan Pameran Seni Rupa Nusantara 2017 "REST AREA". Pada 2019 terlibat "Pameran Sulawesi Parasanganta" di Bentara Budaya Jakarta. Selama pandemi Covid-19, Yudi dan teman-temannya di Makassar Art Initiative Movement berinisiatif menyelenggarakan pameran seperti Rally Art #1 "Leang-Leang Art Spirit", Rally Art#2 "Artmosphere", Rally Art #3 "Inner", dan beberapa pameran lainnya.

Inner Core

Judul Karya: Inner Core

Media: Cat akrilik pada sutra & dua daun jendela

Ukuran: 66x100cm & 33x100cm

Tahun: 2020


"Inner Core" adalah karya yang bercerita tentang eksistensi tenun sutra yang memiliki peran tak sebatas sebagai pakaian (sandang ) semata pada budaya Bugis-Makassar, namun merupakan pembentukan "inti dari dalam” dan upaya pembentukan karakter. Pada zaman dahulu, kegiatan menenun bukan sebatas kegiatan memproduksi kain tapi merupakan bentuk pendidikan, penjagaan, dan cara nenek moyang menjunjung tinggi harga diri seorang perempuan sebagai ibu manusia. Sosok wanita Bugis hanya dapat dilihat ketika daun jendela rumahnya terbuka. Tempat ia setiap harinya menenun lembaran benang menjadi sebuah kain yang nantinya akan ia kenakan ataupun untuk dijual guna memenuhi kebutuhannya. Kegiatan menenun ini biasanya dilakukan guna menunggu musim panen ataupun musim tanam tiba dan perantara antara kedua musim itu biasannya disebut sebagai musim nikah. Karena pada antara dua musim itulah pemuda mampu secara mental dan finansial. Ketika seorang pemuda menginginkan seorang wanita maka untuk melihatnya sang pria harus bersabar dan menanti daun jendela terbuka. Meski pada adegan tersebut sang pria hanya melihat dahi seorang perempuan (karena pengaruh desain rumah panggung) namun tak akan mengurangi nilai kecantikan wanita tersebut di mata pria. Itu terjadi karena sang wanita telah memilik “Inner Core” atau inti dari dalam. Karya ini tersaji dengan menggunakan media akrilik yang tergambar secara abstrak figuratif di atas dua lapis kain sutra. Pada lapisan pertama terdapat tulisan huruf Lontara yang menuliskan syair tentang keperkasaan wanita. Sedangkan pada lapisan kedua terdapat kain sutra putih yang menyimbolkan kesucian dan menggambarkan secara abstrak hiasan kepala mempelai wanita yang apabila diperhatikan mirip matahari terbit yang menyimbolakn cahaya harapan dan kehidupan.