Perupa

Hendra Gunawan (1918 - 1983)

Hendra-Gunawan-1918-1983-Keluarga-Gerilya

Keluarga Gerilya

1951

Cat minyak pada hardboard

75 x 65 cm

Koleksi Galeri Nasional Indonesia.

Karya-karya Hendra pada tahun 1950-an banyak menggambarkan tema-tema perjuangan dan revolusi kemerdekaan. Penggambaran di masa perang cenderung didominasi oleh warna-warna tanah (cokelat, umber, merah, sienna, dll.) sehingga menghasilkan suasana yang kelam dan lebih dramatis. Seperti pada karya “Keluarga Gerilya”, digambarkan pose seorang lelaki yang sedang duduk dengan menyilangkan kaki. Terlihat ada deformasi pada bagian tangan yang saling bersilangan, menempel pada kaki (paha) sehingga menambah absurd pose sosok tersebut. Ada kemungkinan sosok itu adalah potret dirinya sendiri. Dalam catatan Agus Dermawan T., Hendra ikut dalam arus seniman-seniman yang angkat senjata yang tergabung dalam laskar Pelukis Front. Dari medan-medan pertempuran itu, ia membawa pulang puluhan sketsa kemelut perang.


Guerrilla Family

1951

Oil on hardboard

75 x 65 cm

Collection of the National Gallery of Indonesia.

Hendra's works in the 1950s depicted the struggle and revolution for independence. Wartime depictions tend to be dominated by earthy colors (brown, amber, red, sienna, etc.) resulting in a darker and more dramatic atmosphere. As seen in this work that depicts the pose of a man sitting cross-legged. There is a deformation on the crossed hands, attached to the legs (thighs) so that it adds to the absurd pose of the figure. It is possible that it is a self-portrait. According to Agus Dermawan T.’ notes, Hendra joined the artists who took up arms in the fight, becoming a member of the Front Painters Army. From those battlefields, he brought home dozens of sketches of the chaotic war chaos.